Selasa, 01 Februari 2011

Makalah Studi Hadis (Bagian I)

Muhammad Arifin Jahari

A. Pendahuluan
Selain al-Quran sebagai sumber pertama dalam hukum Islam, hadis juga diposisikan sebagai sumber kedua. Banyak hal yang tidak dijelaskan dalam al-Quran, namun diterangkan melalui hadis. Hadis juga diposisikan sebagai penjelas dan penafsir al-Quran. Terkadang hadis dapat membentuk sebuah hukum yang sama sekali tidak diterangkan melalui al-Quran.
Untuk melihat signifikansi studi hadis kita akan melihat terlebih dahulu pada kedudukan dan fungsi hadis dalam syariat agama Islam. Setidaknya, ada tiga fungsi hadis:
  1. Hadis sebagai penjelas dan penafsir al-Quran serta pengkhusus keumuman al-Quran.
  2. Hadis menetapkan hukum yang tidak diterangkan dalam al-Quran sama sekali.
  3. Hadis pe-nasikh sebagian hukum dalam al-Quran (bagi yang berpendapat hadis dapat me-nasikh hukum yang berada dalam al-Quran).
Dari tiga fungsi ini, dapat dibayangkan, betapa pentingnya mengkaji hadis. Wajar, ketika hadis dijadikan sumber kedua dalam Syariat Islam, apalagi, hadis – secara makna – dianggap wahyu yang datangnya dari Allah SWT.
            Kedudukan hadis juga diperkuat oleh al-Quran. Sebagaimana tercantum dalam; QS. Ali Imran [3]: 31; QS. An-Nisa’ [4]: 59, 65, 80; QS. An-Nur [24]: 63; QS. Al-Ahzab [33]: 21; QS. Al-Hasyr [59]: 7; dll.
Dalam makalah ini, penulis akan berusaha menjelaskan dan memaparkan tentang studi hadis dan yang berkaitan dengannya. Makalah ini terdiri dalam beberapa sub pembahasan, diantaranya: 1) Pengertian pelbagai istilah dalam studi hadis; 2) Perkembangan awal studi hadis; 3) Pendekatan utama dalam studi hadis; 4) Perkembangan mutakhir dan kritik studi hadis; dan 4) Referensi utama dalam studi hadis.
Sudah sangat pasti, makalah yang serba singkat dan terbatas ini, jauh dari kesempurnaan. Sebab itu kami berharap sumbangan kritik yang membangun, saran dan masukan berargumen dan bereferensi sangat diharapkan untuk menjadikan makalah ini lebih bermanfaat guna.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar