Selasa, 01 Februari 2011

Makalah Studi Hadis (Bagian II)

Muhammad Arifin Jahari

B. Pengertian Pelbagai Istilah Dalam Studi Hadis
Sebelum memasuki pembahasan mengenai studi hadis, ada beberapa istilah yang mesti kita ketahui, diantaranya:

1. Al-hadîts
Kata al-hadits berasal dari bahasa Arab حدث yang berarti komunikasi, cerita, percakapan baik dalam konteks agama, duniawi, sejarah atau peristiwa dan kajian aktual lainnya. Al-hadits dalam bentuk kata sifat, dapat juga disinonimkan dengan kata al-jadid (baharu) lawan kata dari al-qadim (abadi). Dalam al-Quran disebutkan:
إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفاً[1]
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ[2]
Kedua ayat di atas mengandung makna hadis secara bahasa.
Sedangkan al-hadits secara teminologi adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Saw. berupa ucapan, perbuatan, pengakuan, tabiat atau budi pekerti. Namun terkadang hadis juga disandarkan kepada para sahabat atau tabi’in.[3]

2. As-sunnah
As-sunnah secara etimologi bermakna jalan dan kebiasaan yang baik atau yang jelek. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menerangkan hal ini, Rasul Saw. bersabda:
من سن فى الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شئ. من سن فى الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعدها من غير أن ينقص من أوزارهم شئ.
Kata سن.....سنة dalam hadis tersebut berarti berjalan, berbuat, melakukan, mengikuti dan membiasakan kebiasaan yang baik atau yang jelek.[4]
Sedangkan secara terminologi ahli Hadis adalah, “Setiap yang datang dari Rasul Saw., berupa perkataan, perbuatan, pengakuan, tabiat, budi pekerti atau perjalanan beliau sebelum kenabian atau setelahnya.”[5]
Selain definisi ini, pakar Usul Fiqh dan pakar Fiqh memiliki definisi tersendiri terhadap as-sunnah. Pakar Usul Fiqh mendefinisikan as-sunnah sebagai, “Setiap yang datang dari Rasul Saw. selain al-Quran, apakah itu berupa perkataan, perbuatan atau pengakuan yang pantas dan layak untuk dijadikan sandaran hukum syari’at.”[6] Sedangkan menurut para pakar Fiqh, as-sunnah adalah, “Setiap yang jelas datangnya dari Rasul Saw. dan menjadi ikutan yang tidak termasuk dalam kategori fardhu dan atau wajib.”[7] Terkadang juga Ulama Fiqh meng-antonim-kan kata ini dengan al-Bid’ah. 

3. Al-khabar
Secara bahasa makna al-khabar sama seperti makna hadis, yakni an-naba’: berita, informasi, dll. Menurut pendapat jumhur ulama, khabar secara istilah juga semakna dengan hadis, yakni segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Saw., para sahabat dan tabi’in. Namun, menurut pakar Fiqh Khurasan, khabar terkhusus pada hadis yang marfu’ saja.[8]



4. Al-atsr
Al-atsr secara etimologi atau terminologi sama dengan khabar dan hadis, yakni berita dan informasi menurut bahasa, serta segala sesuatu yang disandarkan pada Nabi Saw., para sahabat dan tabi’in secara istilah. Ini menurut pendapat jumhur ulama. Namun, berbeda menurut ulama khurasan, mereka berpendapat, Atsar lebih terkhusus pada hadis mauquf.[9]

5. As-sanad
Sanad menurut bahasa berarti mu’tamad, yaitu tempat bersandar, tempat berpegang yang dipercaya.[10] Dikatakan demikian, karena hadis itu bersandar kepadanya dan dipegang atas kebenarannya.[11] Sedangkan menurut terminologi, sanad adalah jalannya matan, yaitu silsilah para perawi yang meriwayatkan matan dari sumbernya yang pertama.[12] Yang dimaksud dengan silsilah adalah susunan atau rangkaian orang-orang yang menyampaikan materi hadis tersebut, mulai dari yang pertama sampai kepada Nabi Saw.[13]

6. Al-matn
Matan menurut bahasa adalah sesuatu yang keras dan tinggi (terangkat) dari bumi.[14]  Sedangkan secara terminologi, matan berarti lafaz-lafaz hadis yang di dalamnya mengandung makna-makna tertentu.[15] Dengan demikian matan adalah lafaz hadis itu sendiri.


[1] QS. Al-Kahf [18]: 6.
[2] QS. Adh-Dhuha [93]: 11.
[3] Muhammad Ajjaj al-Khatib, As-Sunnah Qablat Tadwin (Bairut: Dar al-Fikri, 1993), h. 21-22.
[4] Ibid., h. 14.
[5] Ibid., h. 16.
[6] Ibid.
[7] Ibid., h. 17.
[8] Ibid., h. 22.
[9] Ibid.
[10] Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadis (Jakarta : Gaya Media Pratama, 1998), h. 8.
[11] Mahmud at-Thahhan, Taisir Musthalah al-Hadis (Beirut : Dar al-Quranul Karim, 1979), h. 16.
[12] Ibid.
[13]Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadis…. h. 92.
[14]Daud Rasyid, Pembaharun Islam dan Orientalisme dalam Sorotan (Jakarta : Media Eka Sarana, 2002), h. 147.
[15]Ibid., h. 154.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar