Selasa, 01 Februari 2011

Makalah Studi Hadis (Bagian III)

Muhammad Arifin Jahari

C. Perkembangan Awal Studi Hadis
Pada awalnya, studi hadis hanya seputar periwayatan hadis itu sendiri. Tidak ada pengorganisasian secara khusus tentang ilmu hadis seperti sekarang. Para sahabat mendapat hadis dari Rasul Saw., dan kembali diceritakan kepada sahabat yang lain. Dengan berjalannya waktu, ilmu hadis pun menjadi suatu disiplin ilmu khusus yang terorganisir dan sistematis. Untuk membahas ini ada dua hal yang mesti kita paparkan:

a. Prakodifikasi Hadis
Budaya tulis menulis sebenarnya sudah ada sebelum Islam datang di Jazirah Arab. Hal ini terbukti, ketika diadakannya sayembara syair setahun sekali, dan gubahan terhebat akan ditempelkan dan dipublikasikan di dinding ka’bah.
Terkait dengan penulisan hadis, ada dua riwayat dari Nabi Saw. yang kalau dilihat sepintas agak kontradiktif. Di satu sisi Nabi melarang untuk menulis selain al-Quran, termasuk hadis.[1] Di sisi yang lain Nabi Saw. pernah membolehkannya kepada sahabat-sahabat tertentu.[2] Ulama Islam memahami hal ini bukan sebagai kontradiktif, karena masih bisa disatukan (taufiq). Setidaknya ada tiga cara men-taufiq-kannya. Pertama, hadis larangan hanya ditujukan kepada orang yang mampu menghafal sekian banyak hadis, sedangkan hadis yang membolehkan tertuju pada orang yang tidak mampu demikian. Kedua, hadis larangan tertuju pada orang yang kalau ia menulis hadis maka diprediksi akan bergabungnya hadis dengan al-Quran, sehingga terjadinya distorsi terhadap al-Quran. Sedangkan hadis pembolehan tertuju pada orang yang tidak demikian. Dan yang ketiga, hadis pembolehan me-nasakh hadis yang melarang. Karena diprediksikan, hadis pelarangan datangnya di awal, yang pada fase itu Nabi khwatir akan bercampurnya hadis dengan al-Quran, kalau beliau membolehkan untuk menulis hadis. Sedangkan hadis pembolehan datang belakangan, ketika Nabi tidak khawatir lagi dengan hal tersebut.
Dengan adanya pelarangan dan pembolehan penulisan hadis pada masa Rasul ini, dapat dipastikan, hadis pada masa itu sangat sedikit sekali terekam dalam bentuk tulisan. Hadis hanya banyak berada di hafalan-hafalan para sahabat. Apalagi di sana ada sebuah gerakan takut meriwayatkan hadis Rasul, sebagaimana dilakukan oleh Umar Ibn Khaththab.[3]
Melihat perkembangan hadis pada masa ini hanya mengandalkan pada ingatan dan hafalan para sahabat, yang mereka juga adalah manusia, maka terjadilah periwayatan secara makna yang mungkin saja pelafalan antarsahabat, yang mendengar hadis yang sama, menjadi berbeda. Jauh kedepan, periwayatan-periwatan yang berbeda lafal ini akan mengundang dan mengandung multi interpretasi.
Akibat lain dari hal ini, yang mungkin lebih fatal, terjadinya distorsi atau pemalsuan terhadap hadis Nabi Saw. Ahmad Amin, dalam Fajrul Islam-nya, membuka kemungkinan ini. Beliau berpendapat, ketika Nabi Saw. mengatakan, “Siapa yang membuat-buat hadisku dengan sengaja, maka telah disediakan tempat duduknya dari api neraka,” ditujukan kepada orang yang telah mencoba ke arah tersebut.[4] Jadi kasusnya adalah realita.
Setelah Nabi Muhammad Saw. meninggal dunia, gerakan pemalsuan terhadap hadis semakin gencar. Ada beberapa sebab terjadinya pemalsuan terhadap hadis ini, diantaranya:[5]
  1. Permusuhan politik
  2. Perbedaan idiologi dan fikih
  3. Permintaan para pemimpin
  4. Sepele terhadap pembahasan fadhailul a’mal, targhib dan tarhib
  5. Egoisme, supaya ijtihadnya dapat diterima oleh khalayak.
Pada masa ini muncullah sifat selektif Ahli Hadis dan bahkan para sahabat sendiri dalam meneriman hadis Nabi Saw. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim diterangkan, Basyir al-Adawi datang kepada Ibnu Abbas dan ia (Basyir) berkata: Rasulullah Saw. bersabda....(bla bla bla). Lalu Ibnu Abbas berpaling dan tidak mau mendengar ucapan itu. Basyir pun berucap: Hai Ibnu Abbas, mengapa kamu tidak mau mendengarkan hadis Rasul yang kubawakan? Ibnu Abbas pun berkata: Dulu, ketika ada seseorang membawa dan mengucapkan hadis Rasul, kami berambisi untuk mendengarnya. Namun sekarang, setelah banyak penyepelean terhadap periwayatan hadis Nabi, kami tidak mau mendengarnya dari siapa pun, kecuali dari orang yang kami kenal (kejujurannya) saja.[6] Cerita yang senada banyak dijelaskan.
Tradisi selektif dalam menerima hadis ini terus belangsung sampai masa kodifikasi hadis.
Dalam Ensiklopedi Islam, dijelaskan ada tujuh periode perkembangan hadis. Tiga pertama diantaranya termasuk dalam masa prakodifikasi hadis. Ketiga periode itu adalah:[7]
1. Periode Turunnya Wahyu dan Pembentukan Hukum.
2. Periode Tatsabbut wa Iqlalur Riwayah.
Kedua poin ini telah kami jelaskan di atas.
3. Periode Intisyar ar-Riwayah.
            Periode penyebaran riwayat ini berlangsung pada masa sahabat kecil dan tabiin besar. Penaklukan yang dilakukan oleh tentara Islam atas wilayah Syam dan Iraq (17 H), Mesir (20 H), Persia (21 H), Samarkand (56 H), dan Spanyol (93 H) mengharuskan para sahabat pindah ke tempat-tempat baru tersebut untuk keperluan mengajarkan agama Islam.
            Pada perkembangan selanjutnya, seorang sahabat yang mendengar hadis Nabi yang belum pernah didengarnya merasa perlu berkunjung ke tempat tinggal sahabat yang disebutkan telah meriwayat hadis tersebut. Berita kedatangan seorang sahabat di suatu daerah mengundang perhatian tabiin untuk mendengarkan pengajaran-pengajaran Islam, termasuk hadis, dari para sahabat.
Dikisahkan, Jabir pernah pergi ke Syam dengan maksud menanyakan sebuah hadis pada seorang sahabat yang tinggal di sana. Hal yang sama juga dilakukan oleh Abu Ayyub al-Ansari, ketika melawat ke Mesir untuk menemui Uqbah bin Amr untuk menanyakan sebuah hadis.

b. Masa Kodifikasi Hadis
Awalnya Umar bin Khattab pernah berfikir untuk menuliskan hadis, sebagaimana beliau juga mengusulkan pengumpulan al-Quran. Namun, setelah dipikir, beliau takut kalau-kalau orang Islam sibuk dengan hadis, lalu melupakan al-Quran.[8] Hadis pun dibiarkan, tanpa ada pengumpulan, penulisan atau pembukuan di masa beliau.
            Dengan melihat kondisi yang tidak memungkinkan untuk terus seperti ini, setelah Umar bin Abdul Aziz memegang tampuk kekuasaan, beliau memerintahkan ulama pada saat itu menulis dan membukukan hadis Rasul yang ada di ingatan siapa saja. Hal yang mendasari beliau untuk mengambil langkah ini adalah kekhawatiran terhadap perkembangan ilmu dan perginya para ulama. Diantara yang beliau perintahkan adalah Ibnu Syihab az-Zuhri dan Abu Bakar bin Hazm.  
Ada dua penyebabkan Umar ibn Abdul Aziz mengambil sikap seperti ini, pertama, ia khawatir akan hilangnya hadis-hadis dengan gugurnya para ulama di medan perang. Kedua, ia khawatir akan bercampurnya antara hadis yang sahih dan hadis palsu. Di pihak lain dengan semakin meluasnya daerah kekuasaan Islam, sementara kemampuan para tabiin antara satu dengan yang lain tidaklah sama, hal ini jelas memerlukan kodifikasi hadis.[9]
Dengan munculnya berbagai persoalan, sebagai akibat dapi pergolakan politik, yang cukup panjang dan mendesak untuk segera mengambil tindakan guna menyelamatkan hadis dari kemusnahan dan dari pemalsuan. Menurut beberapa riwayat Umar bin Abdul Aziz juga ikut serta dalam mendiskusikan hadis-hadis yang sedang dihimpun.[10]
Pada abad ke-2 Malik ibn Anas (93-179 H) di Madinah adalah seorang atba’ at-tabiin, hasil karyanya: al-Muwaththa' yang bisa diwariskan ke generasi sekarang. Kitab tersebut di susun  pada tahun 143 H dan para ulama menilainya sebagai kitab tadwin pertama.
Para Pen-tadwin berikutnya, Muhammad ibn Ishaq (w.151 H) di Madinah, Ibnu Juraij (80-150 H) di Makkah, ar-Rabi' ibn Sabih (w.160 H) di Basyrah, Hammad bin Salamah (w.176 H) di Basyrah, Ibn Abi Zi'bin (80-158 H) di Madina, Sufyan as-Sauri (97-161 H) di Kufah, al-Auza'i (88-157 H) di Syam, Ma'mar ibn Rasyid (93-153 H) di Yaman, Ibn al-Mubarak (118-181 H) di Khurasan, Abdullah ibn Wahab (125-197 H) di Mesir dan Jarir ibn Abdullah al-Hamid (110-188 H) di Rei.[11]
Setelah itu masuklah masa seleksi atau penyaringan hadis, hal ini terjadi pada  masa pemerintahan Dinasti Abbasiah, khususnya pada masa al-Makmun sampai masa al-Muqtadir (201-300 H). Sebab munculnya periode ini, karena pada periode tadwin belum berhasil memisahkan hadis-hadis yang dhaif dari hadts yang sahih. Begitu juga hadis yang mauquf dan maqtu' dari hadis yang marfu', bahkan masih ada hadis yang mawdhu' bercampur dengan hadis yang sah.
Pada masa ini para ulama mengadakan penyaringan hadis yang diterimanya secara ketat. Melalui kaidah-kaidah yang ditetapkan, pada masa ini mereka berhasil memisahkan hadis mawquf dan maqtu' dari hadis marfu', dan hadis dha’if dari hadits sahih, dll. Meskipun berdasarkan penelitian berikutnya masih ditemukan hadis dha’if dalam kitab-kitab karya mereka.
Berkat keuletan dan keseriusan para ulama pada masa ini. Maka muncullah kitab-kitab hadis yang hanya memuat hadis-hadis yang sahih. Kitab-kitab tersebut pada perkembangannya kemudian, di kenal dengan Kutub as-Sittah (kitab induk yang enam).[12]
Ulama pertama yang berhasil menyusun kitab tersebut, ialah Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah al-Bukhari, yang terkenal dengan "Imam Bukhari" (194-252 H) dengan kitabya al-jami' ash-shahih.. Kemudian disusul  muridnya, Abu Husain Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisabiri, yang di kenal dengan "Imam Muslim" (204-261 H) dengan kitabnya al-Jami' ash-shahih.
Usaha yang sama juga dilakukan oleh  Abu Daud Sulaiman ibn al-Asy'as ibn Ishak al-Sijistani (202-275 H), Abu Musa Muhammad ibn Isa ibn Surah at-Turmuzi (200-279 H), Abu Abdur Rahman ibn Sua'id ibn Bahr an-Nasa'i (215-302 H), Abu Abdillah ibn Yazid ibn Majah (207-237 H) hasil karya mereka bernama as-Sunan, yang menurut para ulama  kualitasnya dibawah kitab karya Bukhari dan Muslim.[13] 
Setelah penyusunan kutub as-Sittah dan al-Muwatta' Malik serta al-Musnad Ahmad ibn Hambal, para ulama mengalihkan perhatian untuk menyusun kitab-kitab al Jawami', kitab Syarah Mukhtasar, men-takhrij, menyusun kitab Atraf dan Jawa'id serta penyusunan kitab hadis untuk topik-topik tertentu. Ulama yang masih melakukan penyusunan kitab hadis yang memuat hadis-hadis sahih ialah, Ibn Hibban al-Bisti (w.354 H), Ibn Huzaimah (w.311 H) dan al-Hakim an-Naisaburi.[14]
Penyusunan kitab-kitab pada masa ini lebih mengarah kepada usaha mengembangkan beberapa variasi pen-tadwin-an terhadap kitab-kitab yang sudah ada. Dengan mengumpulkan isi kitab sahih Bukhari dan Muslim, seperti yang dilakukan  oleh Muhammad ibn Abdullah al-Jauzaqi dan Ibnu al-Furat (w.414 H). Abdul Haq ibn Abdurrahman al-Asybili (terkenal ibnu al-Kharrat, w.583 H), al-Fairu az-Zabadi dan Ibn al-`Asir al-Jazari, juga mengumpulkan kitab yang enam. Dan ada juga yang mengumpulkan hadits mengenai hukum, seperti yang dilakukan oleh ad-Daruqutni, al-Baihaqi, Ibnu Daqiq al-'Id, Ibnu Hajar al-Asqalani dan Ibnu Qudamah al-Maqdisi.
Periode ini memiliki waktu yang cukup luas, dimulai dari abad keempat sampai dengan abad kontemporer, masa perkembangan ini melewati dua fase perkembangan sejarah perkembangan Islam, yakni fase Pertenganhan dan fase Modern.


[1] Rasul bersabda, “Janganlah kalian tulis (hadis) dariku, siapa yang sudah terlanjur menulisnya, hendaklah ia menghapusnya. Kalian boleh meriwayatkan hadis dariku, siapa yang berbohong atasku secara sengaja, maka akan disediakan tempat duduknya dari api neraka.” (HR. Muslim, no. 5326)
[2] Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa Nabi setelah berkhutbah, seorang laki-laki yang bernama Abu Syah meminta untuk menuliskan khutbah itu untuknya. Lalu Nabi memerintahkan sahabat untuk menuliskannya. Keterangan ini didapat dari hadis shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya no. hadis 2254, Muslim no. 2414, dan Abu Daud no. 3164. kasus yang sama (penulisan hadis) juga dilakukan oleh Abdullah bin Amr bin ‘Ash.
[3] Ahmad Amin, Fajrul Islam (Mesir: Maktabatul Usroh, 2000), h. 333.
[4] Ibid., h. 334.
[5] Ibid., h. 337-342.
[6] Ibid., h. 334-335.
[7] Departemen Pendidikan Nasional, Ensiklopedi Islam (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2001) jil. II, h. 42-45.
[8] Adnan Muhammad Amamah, At-Tajdidu fil Fikril Islami (Saudi Arabia: Dar Ibnu Hazm, 1424 H.) h. 189.
[9] Subhi As-Salih, Ulum al Hadits wa Mustalahuhu (Bairut: Dar al Ilm Al Malayin, 1977),  h. 45
[10] Muhammad Ajjaj al-Khatib. As-Sunnah…. h. 330
[11] Ibid., h. 337-338.
[12] Subhi as-Salih, Ulum al Hadits…. h. 48.
[13] Ibid.
[14] Ibid., h. 48. Lihat juga, Ajjaj al-Khatib. As-Sunnah…. h. 104.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar